Sabtu, 17 Desember 2011

Fotometer dan Polarimeter

FOTOMETER
          Prinsip kerja dari alat fotometer ialah sejumlah tertentu larutan logam disemprotkan ke dalam nyala. Pelarut kemudian akan menguap meninggalkan serbuk garam halus yang kemudian diatomkan. Intensitas emisi radiasi yang dipancarkan oleh unsur itu mempunyai hubungan dengan konsentrasi dari unsur tersebut. Atom - atom akan mengalami eksitasi bila mernyerap energi. Energi tersebut akan dipancarkan ketika atom tereksitasi dan kemudian kembali ke keadaan dasar sehingga detektor dapat mendeteksi energi yang terpancar tersebut.
Alat fotometer pada prinsipnya memiliki kesamaan seperti spektrofotometer, yang membedakan hanyalah penggunaan filter sebagai monokromatornya. Filter hanya digunakan untuk meneruskan cahaya namun dapat juga menyerap sumber radiasi dari gelombang lain. Penggunaan fotometer lebih sering digunakan untuk kebutuhan laboratorium klinis (analisa darah).
Fotometer terdiri dari beberapa bagian, yaitu :
·         Selang aspirator
Selang aspirator berfungsi sebagai penghisap larutan yang akan diukur
·         Pompa peristatik
Pompa peristatik berfungsi untuk menyedot sampel yang berasal dari kuvet ke saluran pembuangan


FOTOMETER

A.    Fungsi Alat










Gambar  3. Fotometer
Fotometer merupakan peralatan dasar di laboratorium klinik untuk mengukur intensitas atau kekuatan cahaya suatu larutan. Sebagian besar laboratorium klinik menggunakan alat ini karena alat ini dapat menentukan kadar suatu bahan didalam cairan tubuh seperti serum atau plasma. Polarimetri adalah meteode yang digunakan untuk analisis komponen menggunakan polarimeter.

B.     Prinsip Kerja
Prinsip dasar fotometri adalah pengukuran penyerapan sinar akibat interaksi sinar yang mempunyai panjang gelombang tertentu dengan larutan atau zat warna yang dilewatinya. Kebanyakan photometers mendeteksi cahaya dengan photoresistors, dioda atau photomultipliers. Untuk menganalisis cahaya, fotometer bisa mengukur cahaya setelah melalui filter atau melalui monokromator penentuan ditentukan panjang gelombang atau untuk analisis terhadap distribusi spektrum cahaya.


C.     Jenis-Jenis Fotometer
©      Absorption
©      Fotometer
©      Flame-fotometer
©      Fluorometer
©      Nefelometer
©      Atomik spektrometer

D.    Spesifikasi Fotometer
Terdapat 2 jenis fotometer, fotometer portabel dan non portabel. Berikut ini jenis-jenis fotometer portabel yang sederhana tetapi sangat akurat iluminansi L201/Lux meter, dengan sistem khusus seperti fluks bercahaya dan pengukuran fotometer.
1.      Pencahayaan L201 photometer
Fotometer iluminansi L201 menawarkan biaya yang lebih rendah ditambah dengan akurasi yang tinggi iluminansi photopic detektor. Rentang operasi 0-19,999 Lux membuat L201 cocok untuk kantor dalam ruangan dan aplikasi pencahayaan industri rentang pengukuran lain yang tersedia termasuk kalibrasi footcandles.
2.      L202 Pencahayaan dam Fotometer Luminance
L202 radiometer digital sangat dirancang untuk pengukuran akurat dari iluminansi dan terang layar dengan biaya rendah dan telah digunakan secara luas oleh para insinyur sistem medis di seluruh dunia. Dengan sederhana, fungsi langsung dan dirancang dengan user dalam pikiran, operasi seperti otomatis sensing dan kalibrasi detektor dipilih kepala berarti bahwa meter memiliki aplikasi ke setiap daerah membutuhkan handal, terjangkau, pengukuran mudah.
3.      L203 Pencahayaan dan Fotometer Luminance
L203 disediakan dengan aksesoris untuk kedua dan pencahayaan pengukuran pencahayaan. Dengan rentang pengukuran besar ,001-199 990 fotometer ini cocok untuk berbagai aplikasi termasuk dalam keadaan darurat. Fitur utama termasuk otomatis atau manual mulai, LCD backlight display, beralih antara Lux dan footcandle atau cd / dan footLambert, RS232 interface rata-rata, m² dan integrasi, minimum dan nilai maksimum.
4.      Luminous Flux Fotometer
Luminous Flux Fotometer terdiri  dari segi seri L203 dan L300 fotometer dengan mengintegrasi dan detektor fotopic. Aplikasi untuk pengukuran fluks bercahaya termasuk dan miniatur lampu otomotif, LED dan sumber dipandu ringan seperti dan endoskopi iluminator mikrosop.
5.      Spot Mengukur Aksesori
Aplikasi yang memerlukan pengukuran pencahayaan pada area  kecil, sumber kecil atau sumber-sumber jauh membutuhkan penambahan titik pengukuran aksesori dipasang untuk photopic detektor fotometer tersebut. SMU 203 memiliki pilihan 25mm-50m dan 100mm ‘C’ mount lensa dan tabung ekstensi memberikan berbagai ukuran spot dan bidang pandang.
6.      L300 Fotometer
Sero L300 dirancang untuk aplikasi yang memerlukan pengukuran kontinudi lokasi tetap. Fotometer ini telah diganti oleh fotometer L203.
7.      L103 Fotometer
Fotometer ini diproduksi sebelum Januari 1999 dan sekarang telah diganti dengan L202, L201 dan L203 seri fotometers. Fotometer ini memiliki berbagai penguat dengan pembacaan skala penuh dari 1.999 Lux atau cd / m² sampai dengan 199 900 Lux atau cd / m².
8.      L101 Fotometer
Fotometer L101 secara khusus diproduksi untuk mengukur iluminansi dan pencahayaan L202 dan fotometer pencahayaan.
Fotometer non portabel terbagi menjadi 4 macam, diantaranya:
a.       Spektrum Optik Reflectance Fotometri
Fotometri ini mengukur permukaan sebagai fungsi panjang gelombang. Caranya,permukaan diterangi dengan cahaya putih, dan cahaya pantulan diukur setelah melewati sebuah monokromator. Jenis  pengukuran telah terutama aplikasi praktis, misalnya dalam industri cat ciri warna permukaan obyektif.
b.      UV dan Cahaya Tampak Transmisi Fotometri
Alat ini digunakan untuk pengukuran penyerapan cahaya panjang gelombang tertentu (atau suatu jangkauan panjang gelombang) dari zat warna dalam larutan. Berdasarkan hukum beer konsentrasi zat warna dalam larutan dapat dihitung. Karena berbagai aplikasi telah ada dalam satu alat fotometer ini. Panjang gelombang yang dipancarkan dalam larutan berkisar antara 240-750 nm.
c.       Inframerah Transmisi Cahaya Fotometri
Fotometri dalam cahaya inframerah terutama digunakan untuk mempelajari struktur zat, sebagai contoh dikelompokkan daya serap larutan pada panjang gelombang tertentu. Pengukuran dalam larutan ini umumnya tidak mungkin, karena air dapat menyerap sinar inframerah dengan sangat kuatdalam beberapa rentang panjang gelombang. Oleh karen itu, fotometer inframerah baik digunakan dalam fase gas atau dengan menekan zat tablet bersama-sama dengan garam yang transparan dalam rentang inframerah.
d.      Atom Penyerapan Fotometri
Fotometri penyerapan atom adalah fotometer yang mengukur cahaya api yang sangat panas. Sampel untuk analisa disuntikan ke dalam api konstan dengan laju diketahui. Logam dalam larutan yang hadir dalam bentuk atom dalam nyala. Cahaya yang monokromatik dalam photometer jenis ini dihasilkan oleh sebuah lampu pengosongan tempat pembuangan terjadi dalam gas dengan metal akan ditentukan. Pembuangan kemudian memancarkan cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai dengan garis spektrum dari logam. Filter dapat digunakan untuk mengisolasi salah satu garis spektrum utama dari logam yang akan dianalisis. Cahaya yang diserap oleh logam dalam api, dan penyerapan digunakan untuk menetukan konsentrasi logam dalam larutan asli.

E.    
A
A

Bagian-Bagian Alat
D
C
B


H
G
F
E

I
 

K
J

Gambar  4 . Bagian-Bagian Fotometer
Keterangan :
A.    Inkubator, berfungsi untuk mengkondisikan sampel pada suhu tertentu
B.     Printer, berfungsi untuk mencetak hasil analisis
C.     Touchsreen, berfungsi untuk mengatur pengaturan alat
D.    Outlet, tempat untuk mengeluarkan hasil yang diserap
E.     Kipas, berfungsi untuk pendingin alat, terletak pada bagian belakang alat
F.      Tombol power, berfungsi untuk menyalakan dan mematikan alat
G.    Konektor RS-232, menyambung ke sumber arus listrik
H.    Selang aspirator, berfungsi untuk menyedot sampel. Caranya adalah dengan menekan tombol aspirator tersebut yang sebelumnya sampel sudah terhubungkan dengan selang aspirator
I.       Pompa, berfungsi untuk menggoyangkan selang
J.       Kuvet, sebagai tempat sampel
K.    Selang peristaltik, berfungsi untuk mengalirkan sampel dari aspirator mengalir melalui kuvet menuju pembuangan. Selang ini bersifat elatis dalam mengalirkan sampel sehingga sampel tidak ada yang tersumbat dalam selang.

F.      Cara Pengoprasian Alat
Dipastikan kuvet telah terpasang dan pompa peristaltik telah dilingkari selang. Kabel dihubungkan dengan arus listrik 220 V. Tombol On/Off ditekan untuk menghidupkan alat dan diamkan 10 menit untuk warming up. Sampel disedot dengan menekan tombol aspirator. Metode yang digunakan dipilih pada touch screen. Semua pengaturan yang kemudian diatur. Semua pengaturan yang digunakan diatur. Hasil analisis dicetak dan sampel yang telah diuji dibuang. Selang dari pompa peristaltik dilepas. Alat dibilas dengan aquabides sebanyak 10 kali dan desinfektan 10%. Sisa buangan dikeluarkan dengan mengalirkan udara. Selang dilepas dari pompa, alat dibersihkan dengan menggunakan tisue, tekan tombol On/Off untuk mematikan alat. Kabel dilepas dari sumber arus. Tutp alat agar tidak terkena debu.

G.    Cara Perawatan dan Penyimpanan Alat
Setiap sesudah digunakan dibilas dengan aquabides serta dihindari dari pelarut yang bersifat korosif. Lampu halogen dimatikan setiap setelah digunakan. Pembersih yang digunakan dapat berupa campuran detergen, alkohol dan air atau menggunakan sodium hipoklorit.
Perawatan alat dilakukan dengan cara alat disimpan pada meja permanen. Tujuannya adalah agar alat tidak terkena guncangan dan mengurangi efektivitas kerja alat. Alat disimpan di tempat yang bersih, tidak boleh terkena cahaya matahari langsung dan hindari kontak atau berdekatan dengan alat yang mengeluarkan gelombang magnetik seperti TV, radio dan handphone.





Karbohidrat

PENDAHULUAN
Molekul karbohidrat terdiri atas atom-atom karbon, hodrogen dan oksigen. Jumlah atom hidrogen dan oksigen merupakan perbandingan 2:1 seperti pada molekul air. Senagai contoh molekul glukosa mempunyai rumus kimia C6H12O6, sedangkan rumus sukrosa adalah C12H22O11. Pada glukosa tampak bahwa jumlah atom oksigen ialah 6:12 atau 2:1, hidrogen 12:6 atau 2:1, sedangkan pada sukrosa 22:11 atau 2:1. Dengan demikian dahulu orang berkesimpulan adanya air dalam karbohidrat. Karena hal inilah maka dipakai kata karbohidrat, yang berasal dari kata “karbon” yang mengandung unsur karbon dan “hidrat” yang berarti air. Walaupun pada kenyataannya senyawa karbohidrat tidak mengandung molekul air, namun kata karbohidrat tetap digunakan disamping nama lain yaitu disakarida. Ada beberapa senyawa yang mempunyai rumus empiris seperti karbohidrat, misalnya C2H4O2 adalah asam asetat atau hidroksiasetaldehida, sedanngkan formaldehida mempunyai rumus CH2O atau lazim ditulis HCHO. Dengan demikian senyawa yang termasuk karbohidrat tidak hanya ditinjau dari rumus empirisnya saja, tetapi yang penting ialah rumus strukturnya.
O                                                                                           O

CH3       C        OH                          HC          O                     H         C         H

                                                            CH2OH
Asam asetat                                       hidroksiasetaldehida                          formaldehida
Dari rumus struktur akan terlihat bahwa ada gugus fungsi penting yang terdapat pada molekul karbohidrat. Gugus-gugus fungsi itulah yang menentukan sifat senyawa tersebut. Berdasarkan gugus yang ada pada molekul karbohidrat, maka karbohidrat dapat didefinisikan sebagai polihidroksialdehida atau polihidroksiketon serta senyawa yang menghasilkannya pada proses hidrolisis.
Pada senyawa yang termasuk karbohidrat terdapat gugus fungsi yaitu gugus –OH, gugus aldehida atau gugus keton. Struktur karbohidrat selain mempunyai hubungan dengan sifat kimia yang ditentukan dengan gugus fungsi, ada pula hubungannya dengan sifat fisika, dalam hal ini aktifitas optik.
Berbagai senyawa yang termasuk kelompok karbohidrat mempunyai molekul yang berbeda-beda ukurannya, yaitu dari senyawa yang sederhana yang mempunyai berat molekul 90 hingga senyawa yang mempunyai berat molekul 500.000 bahkan lebih. Berbagai senyawa itu dibagi dalam tiga golongan, yaitu golongan mono sakarida, golongan oligosakarida dan golongan polisakarida.
Monosakarida ialah karbohidrat yang sederhana, dalam arti molekulnya hanya terdiri atas beberapa atom karbon saja dan tidak dapat diuraikan dengan cara hidrolisis dlaam kondisi lunak menjadi karbohidrat lain. Monosakarid yang paling sederhana ialah gliseraldehida dan dihidroksiaseton.
Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan sering disebut dekstrosa karena mempunyai sifat dapat memutar cahaya terpolarisasi ke arah kanan. Di alam, glukosa terdapat di dalam buah-buahan dan madu lebah. Darah manusia normal mengandung glukosa dalam jumlah atau konsentrasi yang tetap, yaitu antara 70-100 mg tiap 100 ml darah. Glukosa darah ini dapat bertambah setelah kita makan makanan sumber karbohidrat, namun kira-kira dua jam setelah itu, jumlah glukosa darah akan kembali pada keadaan semula. Pada orang yang menderita diabetes mellitus atau kencing manis, jumlah glukosa darah lebih besar dari 130 mg per 100 ml darah.
Madu lebah selain glukosa juga mengandung fruktosa. Fruktosa adalah suatu ketohektosa yang mempunyai sifat memutar cahaya terpolarisasi ke kir dan karenanya disebut juga levolosa. Pada umumnya monosakarida dan disakarida mempunyai rasa manis. Fruktosa mempunyai rasa lebih manis daripada glukosa, juga lebih manis daripada gula tebu tebu atau sukrosa.
Monosakarida ini jarang terdapat bebas di alam. Umumnya berikatan dengan glukosa dalam bentuk laktosa, yaitu gula yang terdapat dalam susu. Galaktosa mempunyai rasa kurang manis daripada glukosa dan kurang larut dalam air. Galaktosa mempunyai sifat memutar bidang cahaya terpolarisasi ke kanan.
Sukrosa ialah gula yang kita kenal sehari-hari, baik yang berasal dari tebu baik dari bit. Selain pada tebu dan bit, sukrosa terdapat pula pada tumbuhan lain, misalnya dalam buah nanas dan dalam wortel. Dengan hidrolisis sukrosa akan terpecah dan menghasilkan glukosa dan fruktosa.
Dengan hidrolisis laktosa akan menghasilkan D-galaktosa dan D-glukosa, karena itu laktosa adalah suatu disakarida. Ikatan galaktosa dan glukosa terjadi antara atom karbon nomor 1 pada galaktosa dan atom karbon nomor 4 pada glukosa nomor 4 pada glukosa. Oleh karenanya molekul laktosa masih mempunyai gugus –OH glikosidik. Dengan demikian laktosa mempunyai sifat mereduksi dan mutarotasi.
Maltosa adalah suatu disakarida yang terbentuk dari dua molekul glukosa. Ikatan yang terjadi ialah antara atom karbon nomor 1 dan atom karbon nomor 4, oleh karenanya maltosa masih mempunyai gugus –OH glikosidik dan dengan demikian masih mempunyai sifat mereduksi. Maltosa merupakan hasil antara dalam proses hidrolisis amilum dengan asam amupun dengan enzim.
TUJUAN
Praktikum bertujuan mengetahui sifat-sifat fisik dan kimia karbohidrat, mengtahui jenis-jenis karbohidrat, reaksi-reaksi identifikasi dan sifat-sifat karbohidrat dan membuktikan kandungan karbohidrat pada suatu zat berdasarkan reaksi-reaksi tertentu.
ALAT DAN BAHAN
Alat yang digunakan ialah penangas air, tabung fermentasi, oven, Erlenmeyer, pipet mohr, bulp, pipet, gelas piala, plat tetes, dan gegep. Bahan yang digunakan ialah glukosa 1%, fruktosa 1%, sukrosa 1%, laktosa 1%, maltosa 1%, pati 1%, pereaksi Molisch, asam sulfat pekat, pereaksi benedict, pereaksi barfoed, fosfomolibdat, ragi, NaOH 10%, kapas, akuades, pereaksi seliwanoff, pereaksi iod encer, arabinosa, gum arab, tepung pati, tepung gum arab, tepung agar-agar, dan tepung inulin.
METODE
Disiapkan tabung reaksi untuk memasukkan larutan.Larutan uji dimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak 5 ml dan ditambahkan dengan 2 tetes pereaksi Molisch.Aduk hingga merata.Secara perlahan-lahan ditambahkan larutan asam sulfat pekat sebanyak 3 ml melalui dinding tabung.Didiamkan sampai terlihat warna violet kemerahan pada batas kedua larutan tersebut, warna violet tersebut menunjukkan reaksi positif, sedangkan hijau negatif.
Disiapkan tabung reaksi, pereaksi benedict dimasukkan sebanyak 5 ml. Ditambahkan 8 tetes larutan yang akan diuji, campur, dan dididihkan selama ± 5 menit. Kemudian dibiarkan sampai larutan menjadi dingin.Setelah dingin, larutan diperhatikan perubahan warnanya dan apakah timbul endapan atau tidak.
Dimasukkan pereaksi barfoed sebanyak 1 ml kedalam tabung reaksi dan ditambah bahan uji pengamatan sebanyak 1 ml. tabung dipanaskan dalam air mendidih selama ± 3 menit dan didinginkan.Setelah dingin, dimasukkan fosfomolibdat sebanyak 1 ml. kocok dan diamati perubahan warna yang terjadi.
Mortar disiapkan, masukkan larutan uji sebanyak 20 ml dan 2 gram ragi roti.Digerus sampai terbentuk suspense yang homogen.Suspensi yang telah didapat dimasukkan kedalam tabung fermentasi sampai bagian kaki yang tertutup terisi penuh cairan.Tabung fermentasi ditutup dengan ibu jari dan dibolak-balik. Jika terasa ada isapan, menunjukkan adanya gas CO2.
Pada tabung reaksi diisi pereaksi seliwanoff sebanyak 5 ml dan 10 tetes bahan uji percobaan.Setelah dicampur, didihkan selama 30 detik atau dengan dipanaskan dalam air yang mendidih selama 60 detik.Perhatikan perubahan warna yang telah terjadi.
Tabung reaksi di masukkan campuran fenil hidrazin natrium asetat kering sebanyak kira-kira memenuhi bagian bundar tabung reaksi.Ditambahkan larutan uji sebanyak 5 ml, dikocok dan panaskan dalam penangas air yang mendidih selama 30 menit.Didinginkan dan periksalah endapan yang terbentuk dibawah mikroskop. (tidak dilakukan)
Dimasukkan 1 tetes larutan uji dan 2 ml pereaksi tauber kedalam tabung reaksi.Kemudian dipanaskan sampai mendidih dan selanjutnya didinginkan dalam air dingin (direndam).Ditambahkan sejumlah air untuk memperjelas warna yang tejadi. (tidak dilakukan)
Dimasukkan tepung bahan uji ke plat tetes. Ditambahkan 1 tetes larutan iod encer, campurkan dengan rata dan perhatikan warna yang terjadi.




HASIL PENGAMATAN
Tabel 1 Metode Hasil Pengamatan Uji Molisch
Bahan Uji
Hasil Pengamatan (+/-)
Perubahan Warna Larutan
Gambar
Glukosa
+
Terdapat cincin berwarna ungu kecoklatan
Fruktosa
+
Terdapat cincin berwarna ungu

Sukrosa
+
Terdapat cincin berwarna ungu
Laktosa
+
Terdapat cincin berwarna ungu
Maltosa
+
Terdapat cincin berwarna ungu
Pati
+
Terdapat cincin berwarna ungu

Tabel 2 Metode Hasil Pengamatan Uji Benedict
Bahan Uji
Hasil Pengamatan (+/-)
Perubahan Warna Larutan
Gambar
Glukosa
+
Hijau + endapan warna merah
Fruktosa
+
Jingga + endapan merah
Sukrosa
+
Hijau kebiruan
Laktosa
+
Hijau kebiruan + endapan merah
Maltosa
+
Hijau kebiruan + endapan merah
-
Pati
-
Biru

Tabel 3 Metode Hasil Pengamatan Uji Barfoed
Bahan Uji
Hasil Pengamatan (+/-)
Perubahan Warna Larutan
Gambar
Glukosa
+
Biru tua + sedikit endapan merah
Fruktosa
-
Biru
Sukrosa
-
Biru muda
Laktosa
-
Biru muda
Maltosa
-
Biru muda

Pati
-
Endapan Biru muda


Tabel 4 Metode Hasil Pengamatan Uji Fermentasi
Bahan Uji
Hasil Pengamatan (+/-)
Tinggi gas CO2 (ml)
Isapan Ibu Jari
Gambar
Glukosa
+
3,4 ml dalam 5 menit
+
Fruktosa
+
5 ml dalam 5,9 menit
+
Sukrosa
+
3,2 ml dalam 5 menit
+
Laktosa
-
0,5 ml dalam 5 menit
-
Maltosa
+
3 ml dalam 5 menit
+

Pati
-
0 ml dalam 5 menit
-






Tabel 5 Metode Hasil Pengamatan Uji Seliwanoff
Bahan Uji
Hasil Pengamatan (+/-)
Perubahan Warna Larutan
Gambar
Glukosa
-
Tidak berwarna
Fruktosa
+
Merah
Sukrosa
+
Merah
Laktosa
-
Tidak berwarna
Maltosa
-
Tidak berwarna
Pati
-
Tidak berwarna

Tabel 6 Metoda Hasil Pengamatan Uji Iod
Bahan Uji
Hasil Pengamatan (+/-)
Perubahan Warna Larutan
Tepung Pati
+
Biru
Tepung Arabinosa
-
Kuning
Tepung gum arab
-
Kuning
Tepung agar-agar
+
Biru
Tepung inulin
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tepung glikogen
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Keterangan :
A : gum arab
B : tepung pati
C : tepung agar-agar
D : tepung arabinosa
 
 










Gambar 1 Pengamatan Uji Iod
 PEMBAHASAN
Uji molisch dilakukan dengan cara mencampurkan larutan karbohidrat dengan pereaksi molisch, yaitu larutan 5% α-naftalena dalam alkohol 95%, kemudian ditambah dengan asam sulfat pekat hingga berubah menjadi violet sebagai petunjuk adanya karbohidrat.
Uji molisch didasarkan untuk heksosa dan pentose yang mengalami dehidrasi oleh pengaruh asam sulfat pekat menjadi hidroksilfurfural atau furfural.Kondensasi aldehida yang terbentuk dengan α-naftol membentuk senyawa dengan warna yang khusus untuk polisakarida dan disakarida. Ada tiga tahapan yang dari reaksi tersebut, yaitu hidrolisis polisakarida dan disakarida menjadi heksosa dan pentosa, dan juga diikuti proses dehidrasi dan kondensasi (Drs. Damin Sumardjo 2006).
Glukosa memiliki sifat dapat mereduksi ion Cu2+ menjadi ion Cu+ yang ada pada larutan Benedict sehingga menjadi Cu2O yang berbentuk endapan. Semakin meningkatnya konsentrasi glukosa pada uji Benedict ini, endapan yang terjadi makin banyak. Hal ini menandakan bahwa makin reduktif gula tersebut mereduksi larutan Benedict.
Pereaksi Barfoed Dibuat dari larutan Coper Asetat dan asam asetat dalam air. Pereaksi ini digunakan untuk membedakan monosakarida dan disakarida dengan jalan mengontrol kondisi – kondisi, seperti pH dan waktu pemanasan.
Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa pada saat pencampuran larutan berwarna biru tua dan setelah proses pemanasan warna campuran menjadi biru terang. Untuk karbohidrat golongan fruktosa dan galaktosa (Monosakarida) terbentuk endapan merah bata. Monosakarida dapat mereduksi lebih cepat daripada disakarida. Jadi Cu2O terbentuk lebih cepat oleh monosakarida daripada disakarida. Oleh Tauber dan Kleiner membuat modifikasi pereaksi dan ternyata menghasilkan warna biru yang menunjukkan adanya monosakarida.
Uji fermentasi dilakukan pada sampel glikosa, fruktosa, sukrosa, laktosa, maltose, dan pati. Dari hasil percobaan diperoleh hasil positif untuk semua sampel hanya yang membedakan dari semuanya yaitu dilihat dari tinggi yang dihasilkan dalam wktu 5 menit dan ada atau tidaknya hisapan jempol untuk menandakan adanya gas CO2. Gas CO2 yang dihasilkan oleh ragi lebih cepat terjadi pada monosakarida khususnya glukosa. Hal ini menunjukkan bahwa monosakarida lebih reaktif dari disakarida ataupun polisakarida. Selain itu, Pati dan disakarida lainnya merupakan molekul yang relatif lebih besar dibandingkan dengan monosakarida sehingga kemampuan ragi untuk mencerna, mengubah pati tersebut menjadi etil alkohol dan karbon dioksida lebih banyak memerlukan energi dan waktu yang lebih lama.

C6H12O6 + 2 C2H5OH        2CH3COOH + H2O + 116 kal
Glukosa             etanol                  cuka asam
Reaksi spesifik lainnya untuk karbohidrat tertentu adalah uji seliwanof. Reaksi seliwanof disebabkan perubahan fruktosa oleh asam klorida panas menjadi asal levulinat dan hidroksimetilfurfural, selanjutnya kondensasi hidroksimetilfurfural dengan resorsinol menghasilkan senyawa berikut:
Sukrosa yang mudah dihidrolisa menjadi gluosa dan fruktosa, memberi reaksi positif dengan uji seliwanof. Pada  pendidihan lebih lanjut, aldosa – aldosa memberikan warna merah dengan reagen seliwanof karena aldosa – aldosa tersebut diubah oleh HCl menjadi Ketosa.Warna merah bata yang dihasilkan pada percobaan ini menandakan bahwa  larutan gula tersebut positif mengandung senyawa ketosa. Warna tersebut disebabkan karena terjadinya reaksi kondensasi resorsinol dengan furfural atau hidroksimetilfurfural. Hanya fruktosa dan sukrosa yang memberikan hasil uji positif, yaitu berwarna kemerahan.
Uji iod dilakukan pada tepung pati, gum arab, dan arabinosa. Dari hasil percobaan tepung pati dan tepung agar-agar positif mengandung amilum karena warna perubahan yang dihasilkan ialah warna biru sedangkan untuk tepung gum arab dan tepung arabinosa menghasilkan warna kuning sehingga mengindikasikan bahwa kedua tepung tersebut tidak mengandung amilum.hal ini disebabkan karena dalam pati terdapat unit-unit glukosa yang membuntuk rantai heliks, karena adanya ikatan konfigurasi pada tiap unit glukosanya. Bentuk ini dapat menyebabkan pati dapat membentuk kompleks dengan iodium yang dapat masuk kedalam spiralnya, sehingga menyebabkan warna biru tua pada kompleks tersebut (Fessenden 1997).Hasil positif pada uji iod yaitu pada tepung pati dan tepung agar-agar.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa pada uji Molisch, uji Benedict dan uji Barfoed glukosa, fruktosa, sukrosa, laktosa dan maltosa memberikan hasil positif. Sedangkan pada uji Selliwanoff yang memberikan hasil positif hanya fruktosa dan sukrosa. Uji Iod yang yang memberikan hasil positif adalah tepung pati dan tepung agar-agar.
DAFTAR PUSTAKA
Sumardjo, Damin.2006. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa    Kedokteran Dan Program Strata 1 Fakultas Bioeksakta. Jakarta: EGC
Pelczar, M.J. dan Reid, R.D. 1958. Microbiology. New York: Mc Graw Hill Book Company
Lehninger, Albert L. 1982. Dasar-dasar Biokimia. Penerjemah: Manggy Thenawijaya. Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari Principle of Biochemistry
 Fessenden. 1986. Kimia Organik Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Adawiyah, Rabiatul. 2010. Karbohidrat. Bogor: IPB Press



Laporan Praktikum                                 Hari                      : Selasa
Biokimia                                                 Tanggal                : 06 September 2011
                                                                                              13 September 2011
                                                                Waktu                  : 09.00-11.20
                                                                Kelompok            : 4 (empat)
                                                                Asisten                 : Resti Siti M, S.Si
                                                                PJP                       : Popi Asri Kurniatin

KARBOHIDRAT

Disusun Oleh :
Ayu Pangestu              J3L110085




PROGRAM KEAHLIAN ANALISIS KIMIA
PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011